Menu

Mode Gelap
Bantu CSR, PT VAT Perbaiki Akses Jalan SMK Negeri 6 Batanghari Fadhil Terpilih Ketua Umun Asprov PSSI Jambi 2021-2025 Pasca PWN, Gubernur Al Haris: Dapat Wujudkan Rintisan Kampung Pramuka Tim UNRAS ini Akan Bertarung di Mabes Polri Mewakili Provinsi Jambi Lantik 278 Pejabat Eselon II, III, dan IV , Wagub Abdullah Sani Minta Sinergi Lintas OPD

Opini · 11 Nov 2021 18:34 WIB

Dampak Industri Komunikasi yang Mempengaruhi Perilaku Seksual Remaja


 Sri Wahyuni Ningsih Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Andalas Perbesar

Sri Wahyuni Ningsih Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Andalas

Penulis: Sri Wahyuni Ningsih Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Andalas

Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Masa remaja diawali ketika memasuki fase pubertas. Pubertas sendiri memiliki ciri yang bebeda antara anak laki-laki dan perempuan. Untuk anak laiki-laki, ciri awal yang dialami nya adalah perubahan suara menjadi lebih besar, tumbuh nya jakun, tumbuhnya rambut halus dibagian tubuh tertentu dan mengalami mimpi basah.

Untuk anak perempuan, ciri awal dari pubertas adalah payudara mulai tumbuh, pinggul menjadi lebih besar dan menstruasi. Dimasa remaja ini anak laki-laki maupun anak perempuan, mulai mengalami perubahan baik fisik, psikologi dan intelektual secara pesat. Rasa ingin tahu yang tinggi dan menyukai tantangan dan mulai tertarik dengan lawan jenis.

Apabila tidak di awasi dengan baik, anak remaja bisa salah langkah dan melakukan perilaku seksual menyimpang.

Salah satu faktor yang dapat menyebabkan anak remaja melakukan perilaku menyimpang adalah penggunakan internet yang tidak tepat. Kebutuhan akan internet dalam mengakses media sosial sudah tidak bisa dipisahkan lagi dalam kehidupan remaja.

Tidak ada hari tanpa media sosial bagi anak remaja sekarang. Ganelius dalam Yanti (2014) mengemukakan bahwa media sosial adalah alat komunikasi yang berakar pada percakapan, keterlibatan dan partisipasi, yang mendorong penggunanya menjadikan media sosial sebagai komunikasi sehari-hari (Fadillah dan Widyatuti: 2018).

Saling bertukar pesan di media sosial membuat hubungan antar dua orang menjadi lebih dekat.

Bennet (2008), Sen dan Hill (2007) dalam Fadillah dan Widyatuti (2018), mengemukakan bahwa media sosial digunakan secara luas untuk proses pembelajaran secara informal.

Media sosial digunakan sebagai salah satu media komunikasi yang paling mudah di akses oleh siapa saja, serta memberikan informasi yang sangat beragam, keterbukaan dan kebebasan sehingga menjadi salah satu referensi bagi siapa saja yang menggunakannya.

Namun dalam kenyataannya, media sosial telah berubah menjadi pengaruh buruk bagi perilaku seksual remaja. Dengan mudahnya, anak remaja mengakses konten-konten yang belum sepantasnya untuk dilihat.

BACA LAINNYA  Brigjen Melindungi Babinsa dan Rakyat

Bahkan sampai melakukan hubungan seksual pada usia remaja. Hasil survei APJII (dalam Mulati dan Lestari: 2019) tentang perilaku pengguna internet tahun 2016, konten media sosial yang digunakan yang terbesar ialah Facebook 54%, lalu Instagram 15% dan youtube 11%. Frekuensi dalam menggunakan media sosial ialah 1 hingga 3 jam per hari yaitu 84% dengan alasan 71% untuk komunikasi dan 65.3% untuk medapatkan informasi.

Kalangan remaja yang mempunyai media sosial biasanya memposting tentang kegiatan pribadinya, curhatannya, serta foto-foto bersama teman. Dalam media sosial siapapun dapat dengan bebas berkomentar serta menyalurkan pendapatnya tanpa rasa khawatir. Hal ini karena dalam internet khususnya media sosial sangat mudah memalsukan jati diri atau melakukan kejahatan (Putri, Nurwati dan S. Budiarti: 2016).

Disinilah para remaja mulai terjebak dan akhirnya terjerumus dalam perilaku menyimpang. Berawal dari sekedar like postingan hingga berlanjut dalam chattingan, para remaja melakukan komunikasi yang intens dengan lawan jenisnya bahkan sampai melanggar norma kesusilaan.

Tanpa disadari penggunakan media sosial secara aktif dan terus menerus dapat mengganggu psikologis remaja. Dorongan untuk terus mengakses berbagai hal di media sosial menimbulkan rasa keingintahuan yang semakin medalam bagi remaja, apalagi dalam media sosial konten-konten berbau pornografi tampil secara sukarela dalam wall media sosial.

Karena tidak adanya batasan konten pornografi di media sosial memiliki dampak yang buruk terhadap remaja. Cara pandang dan cara berfikir remaja mulai terusik dan akhirnya mencoba melakukan perilaku menyimpang dan melanggar.

Hasil survey APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) dalam Fadillah dan Widyatuti (2018), media sosial digunakan sebanyak 97.4% dan pengguna terbanyak adalah tingkat Pendidikan SMU/SMA sederajat yaitu 64.7%. Penelitian oleh Ilmuwan North Caroline, Jane Brown (2007) dalam Azinar (2013) secara umum remaja yang paling banyak melakukan hubungan seksual mendapat dorongan seksual dari media sosial.

BACA LAINNYA  11 Ekor Bauaya Dievakuasi dari Tempat Penangkaran Tak Terawat

Dorongan seperti ini yang menimbulkan rasa keingintahuan remaja meningkat. Menurut Jatmika (2010) dalam (Aulia dan Fitriana: 2021) rasa ingin tahu seksual dan coba-coba pada remaja adalah bagian yang normal dari perkembangan remaja itu sendiri.

Rasa ingin tahu seksual dan birahi jelas menimbulkan perilaku seksual yang tidak dapat dipisahkan, remaja sedang mencari jati diri membuat rasa keingintahuan mereka besar salah satunya dengan seksualitas.

Dampak dari perilaku seksual yang harus diterima remaja adalah tertular penyakit seksual, hamil dan melahirkan di usia yang masih muda atau aborsi, serta disidang dalam pengadilan sosial masyarakat (Notoatmodjo: 2011 dalam Aulia dan Fitriana: 2021). Serta menjadi aib bagi keluarga remaja itu sendiri. Salah dalam perilaku seksual bukan hanya merugikan diri si pelaku, melainkan juga merugikan keluarga dan lingkungan mereka. Perilaku menyimpang seksual pada remaja juga berdampak untuk masa depan mereka.

Data dari Kemenkes RI (2015) dalam Fadillah dan Widyatuti (2018), prevalensi di Indonesia terkait perilaku seksual Pranikah yaitu berdasarkan hasil Survei Nasional Kesehatan Berbasis Sekolah pada tahun 2015, didapatkan 8.26% siswa laki-laki di SMP dan SMA pernah melakukan hubungan suami istri dan pada siswa perempuan sebanyak 4.17%.

Bagi remaja perempuan, perilaku menyimpang seksual sangat merugikan dirinya bahkan dapat mengancam masa depan. Jika ditelusuri lebih lanjut dampak buruk dari perilaku menyimpang seksual ini bisa berlangsung lama bahkan seumur hidup.

Kinsley dalam Mulati dan Lestari: 2019 mengatakan bahwa kategorisasi atau tingkat perilaku seksual dibagi menjadi dua, yaitu perilaku seksual sebelum beresiko jika seseorang pernah berpegangan tangan, berpelukan, dan berciuman bibir dengan pasangan.

Dan perilaku seksual beresiko bila seseorang pernah meraba payudara dan alat kelamin pasangan, seks oral, saling menggesekkan alat kelamin dengan pasangan dan melakukan hubungan seksual. Akan tetapi tahapan beresiko pasti diawali dengan tahap belum beresiko terlebih dahulu.

BACA LAINNYA  Napoleon Bonaparte Bak Pembuka Keran yang Tersumbat

Sehingga perlu adanya pencegahan agar perilaku seksual beresiko tidak meningkat. Pencegahan ini dapat dilakukan bila remaja tidak mendekati pacaran dan mampu mengontrol emosi mereka diiringi bimbingan dari orang tua, guru dan keluarga terdekat.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat dapat menjadi dampak buruk bagi remaja bahkan masyarakat. Cerdas dalam menggunakan teknologi juga dalam mengkonsumsi informasi bisa menjadi salah satu cara agar terhindar dari dampak buruk perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Perkembangan ini bisa berdampak positif bila kita sebagai pengguna dapat menggunakan dan memaksimalkan fungsi dari media sosial.
Bimbingan moral sedari dini perlu ditanamkan dalam diri anak, sehingga pada masa remaja mereka mampu membatasi perilaku mereka.

Mereka bisa menilai baik dan buruk suatu perilaku jika dalam diri mereka sudah ditanamkan nilai-nilai moral. Juga sebagai orang tua atau keluarga terdekat dari seorang remaja, juga harus menjaga tingkah laku dihadapan anak remaja. Selalu berikan perhatian lebih untuk anak remaja dan tanamkan nilai-nilai agama dalam diri anak.

DAFTAR PUSTAKA

Aulia Devy Lestari Nurul; Fitriana. Penggunaan Media Sosial dengan Perilaku Seksual Remaja. Jurnal Kebidanan Malahayati. Volume 7 No 2. Hal 303-309

Fadillah Redy; Widyatuti. 2018. Perilaku Pengguna Media Sosial dengan Perilaku Seksual Pranikah pada Remaja SMA. Jurnal Ners Widya Husada. Volume 5 No 3. Hal 87-94

Mulati Dahani; Lestari Dini Indah. 2019. Hubungan Penggunaan Media Sosial dan Pengaruh Teman Sebaya dengan Perilaku Seksual Remaja. Jurnal Kesehatan Masyarakat Universitas Respati Indonesia. Volume 3 No 1. Hal 24-34

Putri Wilga Secsio Ratsja; Nurwati R. Nunung; S Budiarti Meilanny. 2016. Pengaruh Media Sosial terhadap Perilaku Remaja. Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat. Volume 3 No 1. Hal 47-51

Artikel ini telah dibaca 15 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Pentingnya Peran Orang Tua  dalam Menghadapi Anak Remaja Zaman Now

14 November 2021 - 00:02 WIB

Penjilat, Pengecut dan Pejuang

1 November 2021 - 09:49 WIB

UPM Bersuara Menyikapi Dinamika Demokrasi Universitas Pinang Masak

28 September 2021 - 12:49 WIB

Brigjen Melindungi Babinsa dan Rakyat

25 September 2021 - 21:44 WIB

Napoleon Bonaparte Bak Pembuka Keran yang Tersumbat

22 September 2021 - 16:27 WIB

RASIMIN

27 Agustus 2021 - 00:05 WIB

Trending di Opini