LIVE TV
Tugu Keris Kembali Ditutup, Puluhan Pedagang Datangi Kantor Camat Kota Baru Viral Curhatan Wanita Hamil di Luar Nikah, Kekasih Tak Mau Tanggung Jawab Mantapkan Langkah Demi Desanya, Komaruzzaman Daftarkan Diri Sebagai Cakades Pulau Tak Bisa Berlayar Karena Kendala Izin, 8 Kapal Ini Terkatung-Katung, Kemana Pemerintah? Diduga Ada Permainan, Komisi II DPRD Tanjabbar Bakal Panggil Dinas PH

Home / Kabar Islam

Minggu, 11 Oktober 2020 - 10:43 WIB

‘Dimensi Moral Harus Warnai Kerja Pers Islam’

Dunia jurnalistik saat ini dinilai memerlukan pembenahan kembali. Hal itu dikarenakan saat ini jurnalistik dihadapkan pada pertarungan antara realitas, sosial, dan aktualitas.

“Dalam konteks kehidupan biasanya kita ini diselamatkan oleh kerja-kerja wartawan dan kerja-kerja para ilmuwan yang berdiri tegak di atas prinsip kebenaran dihubungkan antara realitas yang apa adanya dengan fakta sosial dan konstruksi sebagai sebuah alat pikiran dan perspektif,” ujar Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir, saat memberikan sambutan pada acara ‘Peluncuran Lembaga Uji Kompetensi Wartawan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Senin (5/10/2020).

Menurut Haedar, di tengah perkembangan perabadan yang sangat pesat serta kuatnya arus informasi dari berbagai media, baik media cetak maupun media online, dimensi moral atau etika harus mewarnai kerja pers Islam.

Baca Juga   Resmikan Masjid As Safa'ah, Wawako Jambi Maulana Ajak Tingkatkan Semangat Keimanan

“Hasil kerja pers Islami harus tetap mengacu ide dan semangat Islam, yaitu agama yang damai dan mencerahkan. Hasil kerja pers harus mencerahkan dan memberikan edukasi ke masyarakat pembacanya, bukan sebaliknya memecah dan mengadu domba,” papar Haedar.

Dunia jurnalisme, menurut Haedar, saat ini juga bisa saja ditenggelamkan oleh hiruk-pikuk disinformasi. Sehingga jurnalisme saat ini sangat penting untuk memiliki kompetensi.

“Definisi disinformasi sendiri merupakan upaya sengaja yang seringkali teratur, berulang, dan disengaja untuk membingungkan atau memanipulasi seseorang. Sehingga saat ini dunia jurnalisme bisa menghadapi risiko ditenggelamkan oleh hiruk-pikuk disinformasi. Makanya dalam hal ini nanti di ujungnya menjadi penting sekali yang namanya kompetensi bagi para jurnalis,” ujar Wakil Pemimpin Redaksi RTV, Makroen Sanjaya.

Makroen melanjutkan, saat ini sistem media dipenuhi dengan periklanan dan komersialisme seringkali merugikan dan terkadang membawa bencana bagi budaya. Untuk itu jurnalis harus memiliki peran dalam menangani hal tersebut.

Baca Juga   Ironis, 3 Media Cetak Berhenti Terbit Justru Jelang HPN 2021

Sementara itu, untuk melahirkan wartawan yang berintegritas cukup meneladani empat sifat Rasulullah yakni shiddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (penyampai), dan fathonah (cerdas) plus keindonesiaan. Wartawan menurut dia memang harus memiliki sifat kejujuran.

“Kalau kita ingin melahirkan wartawan yang berintegritas cukup meneladani empat sifat Rasulullah plus keindonesiaan, karena kita di Indonesia. Jadi wartawan itu memang harus jujur. Tanpa kejujuran tidak mungkin dia bisa melakukan fungsinya sebagai penyampai,” ujar Anggota Dewan Pers, Jamalul Insan.

Acara kemarin sekaligus menjadi momen peresmian Lembaga Uji Kompetisi Wartawan yang dikelola UMJ. “Sudah sejak lama Muhammadiyah fokus dalam keilmuan. Jurnalisme itu juga menjadi bagian dalam memberi kemajuan serta pencerahan dan menjadi bagian dari dakwah,” tutur Haedar.

Baca Juga   Aiman Witjaksono Ajak Jurnalis Terus Kreatif dan Inovatif

Menurut Haedar, keberadaan lembaga Uji Kompetensi Wartawan UMJ adalah untuk memberikan pelatihan dan meningkatkan kualitas wartawan baik di lingkungan Muhammadiyah maupun khalayak umum.

Haedar berharap, Lembaga Uji Kompetensi Wartawan ini dapat menjadi kontribusi Muhammadiyah dalam turut menelurkan jurnalis yang berkualitas sehingga turut memperkokoh pilar demokrasi keempat. Apabila pilar demokrasi tersebut kokoh tentu juga dapat menentukan arah kemajuan bangsa yang turut dapat mengawal jalannya pemerintahan di Indonesia secara baik.
“Uji Kompetensi Wartawan ini dapat menjadi tonggak awal bagi penyebarluasan islam berkemajuan,” kata Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu.

Republika.co.id

Share :

Baca Juga

Kabar Islam

Keutamaan Serta Amalan yang Dapat Dilakukan pada Malam Nisfu Syaban

Kabar Islam

Sikap Kita Kepada Penghina Nabi Muhammad? Ini Kata UAS

Kabar Islam

Skenario Kembalinya Habib Rizieq Shihab

Kabar Islam

Wahai Suami/Istri Jangan Selingkuh, Itu Perbuatan Terkutuk!

Kabar Islam

Dari dalam Tahanan, Habib Rizieq Raih Gelar PhD

Kabar Islam

Terungkap! Misteri Kakek Dibalik Sampul Buku Iqro

Kabar Islam

Sambut Malam Nisfu Sya’ban, Bupati Anwar Sadat Gelar Do’a Bersama

Kabar Islam

Benarkah Rasulullah SAW Hidup Seperti Raja atau Kaisar?