Kapolda Jambi Hadiri Pemakaman Praka Anumerta Tuppal Halomoan Barasa Diduga Oknum TNI Bekingi Perusahaan, Brigjen Junior Tumilaar Marah Besar: Jalan Takut Kita Lawan Centul City Dapat Untung Besar, Pedagang Sebut NasDem Membawa Berkah Fasha Instruksikan Kader Nasdem Batanghari Dukung Pemerintahan Fadhil – Bakhtiar Oknum Polda Jambi Ditahan Jaksa

Home / Hukrim

Jumat, 10 Desember 2021 - 22:43 WIB

Fakta Baru, Korban Guru Perkosa Santriwati Capai 21 Santriwati

NASIONAL – Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Garut, Diah Kurniasari mengatakan bahwa anak-anak yang menjadi korban kejahatan seksual HW (36) tidak hanya 12 orang. Dari informasi yang diterimanya, jumlah korban mencapai 21 orang.

Dari 21 orang tersebut, diungkapkannya, 11 orang korban berasal dari dua kecamatan di Kabupaten Garut.

“Mereka rata-rata dipergauli itu umur 13-an, ya mulai (pesantren) rata-ratakan ada yang 2 (atau) 3 tahun itu. Nah itu bukan hanya orang Garut ya, ada orang Cimahi, Bandung. Semuanya sebenarnya ada 21 lah, gitu seperti itu,” ungkapnya, Jumat (10/12).

Selain itu, disebut Diah, seluruh korban yang hamil saat ini sudah melahirkan. Terakhir yang melahirkan adalah korban yang berusia 14 tahun di bulan November kemarin.

BACA LAINNYA  Harusnya Dukung Jakarta Tuan Rumah Formula E, Anggota DPRD dari PDI-P Malah Mengkritik

“(Dari 11 korban) 8 (anak dilahirkan), semua dari kita (Garut). Jadi 8, (ada) satu (orang korban) sampai ada dua anak. Tapi dari semua sekarang selama 6 bulan semua sudah lahir. Jadi kan tadi di-TV, saya melihat dua sedang hamil, tidak, sekarang semua sudah dilahirkan, semua (bayinya) ada di ibunya mereka masing-masing,” sebutnya.

Pihaknya, diakui Diah sempat menawarkan kalau korban tidak sanggup merawat bayi tersebut akan dibantu oleh P2TP2A Garut. Penawaran tersebut dilakukan karena melihat kondisi perekonomian korban yang rata-rata buruh harian lepas, penjual kitab, petani, hingga pembuat jok.

BACA LAINNYA  Buang Bayi Terus di Dalami Polda Jambi, Inisiatif Sendiri Atau Karena Malu

Kondisi perekonomian tersebut juga yang menjadikan para korban dari Garut bisa berada di tempatnya HW, karena ingin anaknya sekolah dengan gratis.

“Jadi posisi anak-anak (korban dan bayinya) sekarang ada di orang tua mereka, dan akhirnya Alhamdulillah yang rasanya mereka (awalnya) tidak menerima, ya namanya juga anak bayi, cucu darah daging mereka, akhirnya mereka merawat. Walaupun saya menawarkan kalau yang tidak sanggup saya siap gitu ya membantu.
Tapi mereka akhirnya merawat cucu mereka, ya (bisa disebut) cucu-lah,” jelasnya.

Untuk kondisi para korban, saat ini menurutnya sudah lebih kuat karena pihaknya sudah mempersiapkan segalanya begitu menerima kabar warga Garut yang dieksploitasi oleh HW. Kesiapan yang kini dihadapi para korban juga tidak lepas dari pendampingan, hingga trauma healing yang dilakukan kepada korban dan orang tuanya.

BACA LAINNYA  Geledah KPU Tanjabtim Temukan Barang Bukti, Kejari Segera Tetapkan Tersangka

“Insya Allah mereka sudah lebih kuat, karena kami telah mempersiapkan seperti inilah karena kalau ini akhirnya kebuka, mereka harus siap menghadapi para media seperti ini. Kita beri ini psikolog kami yang ada di P2TP2A Kabupaten Garut, kami melakukan trauma healing. Trauma healing ini bukan untuk anak-anak saja, (tapi) kepada orang tua (juga),” katanya.

Sumber: Merdeka.com

Share :

Baca Juga

Hukrim

Datangi Kantor KPU Tanjab Timur, Tim Penyidik Kejari Langsung Bawa Pegawai

Hukrim

Mantan Istri Zumi Zola Diperiksa KPK

Hukrim

Melawan Saat Ditangkap, Eksekutor Geng Motor Dihadiahkan Timah Panas

Hukrim

Hanya Gegara Ini Warga Marosebo Ulu Bakar Rumah Sarminsen

Hukrim

Pria Ini Dringkus Polisi Setelah Menghamili Anaknya Sendiri

Hukrim

Sempat Kabur, Pelaku Aksi Begal Payudara Berhasil Diamankan Warga

Hukrim

Oknum PNS Dispora Dibekuk Saat Bawa Sabu di Hotel

Hukrim

Pelaku Pembunuhan Dengan Air Keras di Jambi Sempat Melawan Saat Ditangkap