Menu

Mode Gelap
Besok Pj Bupati Muaro Jambi, Sarolangun dan Tebo Dilantik Gubernur Jambi Mursyid : Tepat Mendagri dan Gubernur Jambi Pilih Hendrizal, Pengalamannya Sangat Lengkap. Muncul Wajah Baru di Tubuh Pengurus Pemuda Pancasila Jambi, Begini Komentar Panglima Ardi Jum’at Berkah, Masyarakat: Bertemu Bupati Saja Kami Sudah Senang Al Haris: Semangat Idul Fitri Jadi Energi Baru

Opini · 1 Nov 2021 09:49 WIB

Penjilat, Pengecut dan Pejuang


 Foto Ilustrasi Perbesar

Foto Ilustrasi

Ketika ini terjadi, maka organisasi berubah menjadi organisasi busuk. Di dalam organisasi semacam ini, ada tiga tipe manusia yang muncul. Yang pertama adalah tipe manusia penjilat. Manusia semacam ini sejujurnya minim prestasi, namun suka menjilat dan menipu lingkungan sekitarnya, guna mendapatkan kekuasaan di dalam organisasi. Biasanya, orang semacam ini cepat naik jabatan, walaupun tak memiliki pencapaian yang nyata.

Para penjilat biasanya suka bertindak semena-mena. Kebijakan yang mereka ambil cenderung tidak masuk akal, dan merugikan organisasi. Mereka takut terhadap kritik, karena memang kepercayaan diri dan kebijaksanaan hidup mereka rendah. Jilat penguasa, injak bawahan: inilah pola pikir mereka di dalam membuat keputusan.

BACA LAINNYA  RASIMIN

Tipe manusia kedua adalah manusia pengecut. Mereka adalah para penonton di dalam organisasi. Mereka minim kreativitas dan minim prestasi. Biasanya, mereka berani bicara di belakang tentang kejelekan orang-orang lainnya, namun tak berani mengambil tindakan nyata.

Manusia pengecut adalah manusia pencari aman. Mereka hanya memikirkan keamanan diri dan karir mereka sendiri. Mereka tak punya solidaritas dan kepedulian terhadap orang lain yang sedang kesulitan, pun jika orang lain tersebut adalah teman dekatnya. Namun, keamanan yang mereka peroleh sebenarnya adalah keamanan semu, yang akan segera lenyap, ketika krisis melanda.

BACA LAINNYA  Masih Banyak Kekurangan Guru SD, Berikut Penjelasan Dinas PdK Batanghari

Tipe ketiga adalah manusia pejuang. Mereka adalah para pemikir kritis. Mereka bersuara, ketika melihat masalah dan ketidakadilan. Mereka ingin melakukan perubahan, supaya organisasi menjadi tempat yang lebih baik untuk hidup dan berkarya bagi semua orang. Mereka bersedia berkorban demi nilai-nilai yang mereka perjuangkan.

BACA LAINNYA  Al Haris Jenguk Anak Jadi Korban Bacok Ibunya di Tebo

Mereka memiliki rasa solidaritas yang tinggi. Ketika kesulitan melanda, mereka adalah orang-orang yang bergerak cepat untuk memperbaiki keadaan. Namun, mereka kerap kali disalahpahami, terutama oleh para penjilat dan pengecut. Di dalam banyak organisasi, para pejuang biasanya tersingkir, namun memperoleh hal yang lebih baik setelahnya.

Artikel ini telah dibaca 120 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Firli Bahuri Rangkul Pers, Wujudkan Tujuan Indonesia

26 Januari 2022 - 21:25 WIB

Asa Firli untuk Pegiat Media

24 Januari 2022 - 07:03 WIB

Pentingnya Peran Orang Tua  dalam Menghadapi Anak Remaja Zaman Now

14 November 2021 - 00:02 WIB

Dampak Industri Komunikasi yang Mempengaruhi Perilaku Seksual Remaja

11 November 2021 - 18:34 WIB

UPM Bersuara Menyikapi Dinamika Demokrasi Universitas Pinang Masak

28 September 2021 - 12:49 WIB

Brigjen Melindungi Babinsa dan Rakyat

25 September 2021 - 21:44 WIB

Trending di Opini