Menu

Mode Gelap
Adu Kambing Kijang LGX VS Mitsubishi, Sopir dan Penumpang Meninggal di TKP Kampoeng Radja Siap Kembali Menghibur Keluarga di Jambi, KJK Beri Apresiasi Kapolres Tanjab Gelar Acara Sertijab, Berikut Nama-nama Gempar!!! Sejoli Tewas Bersimbah Darah Dalam Kontrakan Mantap!! PilRT di Kota Jambi Bak Pemilihan Kepala Daerah

Sejarah/ Tokoh · 1 Okt 2021 11:30 WIB

Reinkarnasi PKI dan Raibnya Patung 3 Jenderal di Kostrad?


 Patung AH Nasution, Sarwo Edy, dan Suharto kala masih berada di Markas Kostrad. Dalam diorama itu terlihat AH Nasution tengah memberikan perintah kepada Sarwo Edy, dan Suharto duduk memperhatikannya. Diorama ini menggambarkan suasana komanda kotika Kostrad menjadi pusat komandao penggayangan G 30 S PKI Perbesar

Patung AH Nasution, Sarwo Edy, dan Suharto kala masih berada di Markas Kostrad. Dalam diorama itu terlihat AH Nasution tengah memberikan perintah kepada Sarwo Edy, dan Suharto duduk memperhatikannya. Diorama ini menggambarkan suasana komanda kotika Kostrad menjadi pusat komandao penggayangan G 30 S PKI

Oleh: Ridwan Saidi, Politisi Senior, Sejarawan, dan Budayawan Betawi.

Minggu lalu timbul heboh di masyarakat karena hilangnya tiga patung di Markas Kostrad. Patung Jenderal Suharto, Jenderal AH Nasution, dan Jenderal Sarwo Edy raib dari tempat itu. Padahal, ketiga tokoh yang dipatungkan itu berada di garda depan ketika melakukan pengganyangan G30S/PKI.

Pihak yang mengusulkan pemindahan patung-patung itu mengatakan patung adalah berhala, mesti dipindahkan.

Melihat itu, ingatan berputar pada catatan sejarah yang terjadi pada tahun 1453 kala Constantinopel (Istambul Jatuh) jatuh. Turki Ottoman bangkit. Mereka kemudian menguasai sangat luas wilayah, yakni di Asia Barat, termasuk kawasan yang punya masa lalu gemilang dengan kerajaan-kerajaan besar seperti Babylon.

BACA LAINNYA  Perkantoran Bupati Muaro Sering Ada Balap Liar, Anggota Dewan Pertanyakan Fungsi Sat Pol-PP

Tetapi, Ottoman Turki ketika itu tak pernah pindahkan patung-patung Babylon yang ada di Irak, Suriah, Lebanon. Penguasa Irak pun tidak pernah memindahkan patung ulama sufi jenaka Abu Nawas yang berada di tepi Sungai Eufrat. Alhasil, pemindahan patung tiga jenderal, apa pun motifnya dan alasannya, pasti menimbulkan masalah sensitif.

BACA LAINNYA  Pemaparan Visi dan Misi Cakades, Warga: Program Nomor Urut 1 Banyak Menyentuh Masyarakat

Memang, akhir-akhir ini alarm dan “garpu tala” sensitivitas mayoritas bangsa Indonesia bergoyang terus. Bahkan banyak menimbulkan catatan kaki yang unik. Ini karena embusan suaranya bernada pembelaan kepada PKI bahwa partai komunis itu tak terlibat pengkhianatan Gestapu PKI. Bahkan ada juga yang mempersoalkan pemutaran filmnya. Jadi, ini sebenarnya indikasi adanya reinkarnasi

Tadi malam saya bersama masyarakat keluarahan di Sawangan nonton bareng film G30 S PKI . Saya mengantarkan pemutaran film karya Arifien C Noer itu dengan ceramah. Hadirin seratusan duduk dengan semangat keingintahuan.

BACA LAINNYA  RASIMIN

Suara-suara pembelaan terhadap PKI didorong motif genealogis dan/atau ideologis. Tapi ingat, saya baca di koran terompet PKI Harian Rakjat pada edisi 2 Oktober 1965 yang jelas menjadi fakta yang mematikan. Koran itu menyiarkan dengan lengkap susunan Dewan Revolusi yang dibentuk PKI untuk ambil alih kekuasaan negara.

Betapa pun Suharto, AH Nasution, dan Sarwo Edi punya segala kelemahan dan kelebihan, sosok mereka adalah pahlawan yang selamatkan Indonesia dari teror komunis. Justru PKI dan komunis teroris sejati!

Sumber: Republika.co.id

Artikel ini telah dibaca 16 kali

badge-check

Redaksi