Menu

Mode Gelap
Kakak Adik Tak Boleh Ikut Ujan Karena Tak Bayar SPP, Walikota Fasha: Saya Yang Bayar Al Haris Terima Sertifikat Penetapan Warisan Budaya Takbenda, Salah Satunya Tari Ngebeng Asal Rambutan Masam Pemilihan Bujang Gadis Batanghari 2021, Bima Aditia Raih Sebagai Wakil III Mantan Istri Zumi Zola Diperiksa KPK M ZineDine Zidane Dinobatkan Sebagai Bujang Favorit Batanghari 2021

Kabar Daerah · 1 Nov 2021 15:29 WIB

Warsi : Konflik Warga SAD dengan Perusahaan Dilihat Akar Persoalan


 Permukiman warga Suku Anak Dalam Perbesar

Permukiman warga Suku Anak Dalam

Kabarjambikito.com – Konflik antara warga Suku Anak Dalam (SAD) dengan perusahaan PT Jambi Agro Wiyana jadi sorotan Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi.

KKI Warsi menilai untuk menyelesaikan permasalahan konflik antara warga SAD dengan perusahaan perkebunan harus dilihat akar persoalannya.

Manager Program Suku-Suku Komunitas Konservasi Indonesia, Warsi R Aritonang, di Jambi, Provinsi Jambi, Senin, menyebutkan, setiap konflik ini harus dilihat akar persoalannya dan jangan dilihat secara parsial.

Rentetan kasus yang timbul merupakan akumulasi dari persoalan-persoalan dasar pada komunitas adat marginal dalam hal ini Orang Rimba atau Suku Anak Dalam (SAD) yang tidak terselesaikan secara baik.

Perusahaan sawit yang berkonflik dengan Orang Rimba, merupakan wilayah jelajah suku ini sejak sebelum ada perusahaan di wilayah itu. Namun kemudian perusahaan hadir dan komunitas itu dapat menjadi marginal di dalam lahan mereka.

BACA LAINNYA  Gigi Berlubang Berpengaruh pada Kesehatan Tubuh

Tanpa ada upaya untuk mengakomodir suku ini dan memperlakukan mereka layaknya bagian dari anak bangsa. “Ini yang jadi intinya, Orang Rimba kehilangan sumber penghidupan mereka, akibat lahan beralih fungsi menjadi perkebunan sawit,” kata dia.

Pada sisi lain, bagaimana kebun sawit tidak lagi ada umbi di dalam tanahnya, tidak ada lagi pohon buah untuk konsumsi, sehingga Orang Rimba mengambil brondol yang jatuh untuk ditukarkan dengan beras.

Ketika Orang Rimba mengambil brondol, maka hal itu dianggap sebagai pencuri alias pelaku kriminal, dan mereka dapat diperlakukan sewenang-wenang.

Akibatnya pada beberapa kasus Orang Rimba menjadi pihak yang diadukan kepada penegak hukum, sehingga satpam perusahaan –tentunya atas arahan manajemen perusahaan– melakukan tindakan yang mereka yakini sebegai bentuk perlindungan tempat usaha.

BACA LAINNYA  Tambang Batubara Dekat Dengan Pemukiman Warga, Warga Sungai Gelam Minta Hentikan Beroperasi

Ia menyatakan, sama sekali perusahaan tidak melihat Orang Rimba sebagai bagian yang harusnya dicarikan solusi permanen untuk mereka. Orang Rimba seolah dianggap sebagai penumpang di lahan sehingga semua tindakan mereka dianggap sebagai pelaku kriminal.

Ia mengatakan, kesalahannya justru di situ, yaitu tidak melihat Orang Rimba bagian dari anak bangsa dan harus ada itikad baik perusahaan dan pemerintah untuk mengakomodir Orang Rimba dalam sistem penghidupan yang diakui semua pihak.

Sebenarnya sejak beberapa tahun ini, sudah ada skema yang paling tepat untuk Orang Rimba yang berada di kebun sawit yaitu dengan skema reforma agraria.

BACA LAINNYA  Hari Terakhir Festival Ngneng Budayo Rambutan Masam, Sekda Batanghari Makan Masakan Emak-emak

Pengakuan orang rimba di wilayah itu dan diberi sumber penghidupan yang dihargai semua pihak,” kata dia. Kondisi serupa juga terjadi di banyak kelompok Orang Rimba yang tinggal di bawah perkebunan sawit.

Dalam catatan dia, terdapat lebih dari 414 Kepala Keluarga Orang Rimba yang tinggal di perkebunan sawit, di antaranya perusahaan sawit skala besar milik Sinar Mas Plantation yaitu PT PKM, PT BKS dan KDA, serta milik Astra yaitu PT SAL.

“Managemen perusahaan harus bertanggung jawab secara utuh atas Orang Rimba yang ada di lahan mereka, dan tidak membenturkan Orang Rimba dengan pekerja perusahaan, sehingga konflik ini bisa diakhiri secara permanen,” kata Aritonang.

Sumber : Antarajambi.com

Artikel ini telah dibaca 139 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Kakak Adik Tak Boleh Ikut Ujan Karena Tak Bayar SPP, Walikota Fasha: Saya Yang Bayar

9 Desember 2021 - 15:19 WIB

Al Haris Terima Sertifikat Penetapan Warisan Budaya Takbenda, Salah Satunya Tari Ngebeng Asal Rambutan Masam

9 Desember 2021 - 07:24 WIB

Pemilihan Bujang Gadis Batanghari 2021, Bima Aditia Raih Sebagai Wakil III

8 Desember 2021 - 20:33 WIB

Mantan Istri Zumi Zola Diperiksa KPK

8 Desember 2021 - 14:37 WIB

M ZineDine Zidane Dinobatkan Sebagai Bujang Favorit Batanghari 2021

8 Desember 2021 - 14:01 WIB

Belum Puas Sembunyi Untuk Hirup Udara Segar, Malah Diserahkan Pihak Keluarga Ke Polisi

8 Desember 2021 - 08:43 WIB

Trending di Batanghari