Menu

Mode Gelap
Facebook Mulai Uji Coba Kurangi Konten Politik di 80 Negara, Termasuk Indonesia Tanahnya Ditawar Miliaran Rupiah, Pensiunan PNS Ini Pilih Wakafkan untuk Masjid Al Haris Janji Berantas Sumur Illegal Drilling di Batanghari Pemaparan Visi Misi Cakades Bajubang Laut, Warga : Joni Punya Jaringan, dan Pergaulan Luar Biasa Maulana Terima Penghargaan Menkes Terkait Sanitasi Berbasis Masyarakat

Tehnologi/ Medsos · 30 Sep 2021 07:46 WIB

YouTube Blokir Seluruh Video Anti-Vaksin


 Logo YouTube Perbesar

Logo YouTube

NASIONAL YouTube melakukan blokir terhadap video berisi konten terkait pergerakan anti-vaksin, menyusul pemblokiran berita bohong dan misinformasi soal vaksin Covid-19.
YouTube dilaporkan menghapus sejumlah kanal video dari aktivis anti-vaksin terkenal, termasuk Joseph Mercola dan Rebert F. Kennedy Jr.. Ahli menyatakan kedua orang tersebut berkontribusi menyebarkan keraguan yang berdampak pada melambatnya program vaksin di Amerika Serikat.

Kebijakan baru dari YouTube ini diumumkan lewat blog resmi menyusul kebijakan sebelumnya yang melakukan pemblokiran terhadap misinformasi terkait vaksin Covid-19.

BACA LAINNYA  Epic Banget, Wawako Maulana Berenang di Arus Jeram Geopark Merangin Sejauh 1.5 KM

Contoh konten yang tidak diizinkan oleh YouTube adalah konten yang mengandung klaim vaksin flu menyebabkan kemandulan. Selain itu, informasi suntikan MMR yang melindungi dari serangan campak, gondok, dan rubella dapat menyebabkan autisme.

Langkah yang diambil YouTube untuk memblokir konten-konten anti vaksin dimulai karena banyak kritikan yang datang kepada YouTube dan beberapa raksasa teknologi lain seperti Facebook dan Twitter. Kritikan tersebut menyebut raksasa teknologi ini belum melakukan upaya yang cukup untuk menghentikan penyebaran informasi kesehatan yang salah di platform mereka.

BACA LAINNYA  Bupati Tanjabbar Menerima Kunjungan Audensi Perpani

Meski demikian, sikap YouTube yang keras dalam memerangi misinformasi ini menimbulkan berbagai reaksi di seluruh dunia.

Pada Selasa (28/9), sebuah saluran siaran berbahasa Jerman yang didukung Rusia bernama RT dihapus oleh YouTube setelah diduga melanggar aturan misinformasi Covid-19 dari YouTube.

Kemudian Rusia pada hari berikutnya menyebut hal tersebut sebagai agresi informasi, dan mengancam akan memblokir YouTube, seperti dilaporkan Reuters.

Dikutip dari Washington Post, peneliti mengatakan misinformasi di di YouTube memberikan keraguan pada masyarakat yang menyebabkan melambatnya program vaksin yang dilakukan.

BACA LAINNYA  Ditahan Karena Kasus Kerumunan, Eks Anggota FPI Akan Bebas Hari Ini

Di Amerika Serikat sebanyak 56 persen masyarakat telah mendapatkan dua dosis vaksin, lebih sedikit dibanding Kanada yang yang masyarakatnya telah divaksin sebanyak 71 persen dan Inggris yang masyarakatnya sudah divaksin sebanyak 67 persen.

Pada bulan Juli Presiden Biden mengatakan perusahaan sosial media ambil andil dalam menyebarkan misinformasi dan perlu melakukan upaya lebih untuk memberantas hal ini.YouTube Blokir Seluruh Konten Anti-Vaksin.

CNNIndonesia.com

Artikel ini telah dibaca 11 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Facebook Mulai Uji Coba Kurangi Konten Politik di 80 Negara, Termasuk Indonesia

15 Oktober 2021 - 20:59 WIB

WhatsApp Diam-diam Lagi Ngetes Fitur Baru

27 Agustus 2021 - 11:31 WIB

Trending di Tehnologi/ Medsos